"Dari berapa hari yang lalu pengen belajar untuk ujian komprehensif belum juga kesampean. Baca sedikit, ngantuk. Pas besoknya, semangat tinggi: harus belajar! Semua peralatan pendukung juga udah lengkap, tapi ngantuk lagi pas ketemu file2 pdf nya untuk dibaca. Huekkk.. Bisa-bisa belajar last minute lagi nehhh."
Lihat bagaimana saya menulis diatas itu? Itulah hanya salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia yang tidak formal. Saya lahir dan tinggal di Indonesia sampai usia 11 tahun. Lalu pindah ke Arab Saudi dan tinggal di kota Jeddah sampai usia 18 tahun. Selama saya di Indonesia, yang saya gunakan adalah bahasa Indonesia sehari-hari. Ketika saya pindah, saya tidak pandai berbahasa arab ataupun bahasa Inggris, tapi saya tetap di sekolahkan di sekolah internasional yang dimana mayoritas adalah orang-orang amerika, kanada, dan inggris (lambat laun bule-bule ini pulang kampung dan sekarang mayoritas dihuni oleh orang-orang dari berbagai negara Arab). Saya yang tadinya tidak bisa berbahasa inggris seeeeedikit punnnn, akhirnya bisa dengan lancar menulis, berbicara, bahkan berpikir secara otomatis dengan bahasa Inggris. Setiap kali saya pulang ke Indonesia untuk liburan, saya akan sedikit kesulitan untuk berbicara bahasa Indonesia karena otak saya bekerja dengan bahasa Inggris. Bisa dibilang, saya sudah nyaman dengan bahasa Inggris.
Sampai akhirnya saya bersekolah kembali di Jakarta setelah lulus SMA; bahasa Inggris saya perlahan-lahan mulai berkurang walaupun tempat saya kuliah bahasa pengantarnya adalah 'bahasa inggris'. Otak saya mulai beralih untuk memproses hampir semua hal dalam bahasa Indonesia. Jadi semakin hancurlah bahasa Inggris saya. Terlebih selama menjadi koas (ko-asisten dokter), dimana saya harus pandai berkomunikasi dengan efektif dengan pasien menggunakan bahasa Indonesia, lebih jarang lagi saya menggunakan bahasa Inggris.
Sempat saya berpikir, "Kasian juga ya gue.. Bahasa Indonesia yang baik dan benar ga bisa, Bahasa Inggris yang sempurna juga ga bisa. Jadi setengah-setengah gini." Dan memang saya akui, itu menyedihkan. Akhirnya saya memilih untuk belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan cara mendengarkan teman-teman saya dari FK sebelah yang menurut saya tata bahasanya bagus.
Perlu disadari bagaimana jaman sekarang tata bahasa kita sudah semakin hancur. Seberapa banyak anak-anak Indonesia yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik? Tentu tidak harus dilakukan pada percakapan setiap hari, tapi saya khawatir dengan bergabungnya gengsi, prestis (prestige), dan pembodohan (secara langsung ataupun tidak), anak-anak negeri ini akan semakin terpuruk kemampuannya berbahasa Indonesia.
Lihat saja bagaimana iklan-iklan di media massa sudah sangat jarang menggunakan bahasa Indonesia. Acara TV pun seperti itu, kecuali saluran berita dan beberapa acara anak-anak. Sisanya... Kalau bisa menciptakan bahasa baru yang super gawwwuulll, sukur alhamdulillah. Apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh bangsa ini? Banyak dari kami, generasi muda, yang sudah tidak bisa berbahasa daerah tempat orang tua kami berasal. Ditambah lagi dengan kacaunya penggunaan 'Bahasa Indonesia' saat ini, jadi semakin melencenglah Sumpah Pemuda, yang menurut anak jaman sekarang: berbahasa satu, b4h@5a Ind0n35!4. Uhuyyy! Kurang gaul apalagi tuh si pemuda yang bikin sumpah. Hehe.. Di koran-koran murah meriah pun bahasa yang digunakan sangat aneh, menurut saya. Contohnya saja ada headline yang berbunyi, "Cowok nyolong HP, ketangkep digebukin ampe bibirnya jontor. Pas ditanya kenapa nyolong: au uat eayain aun auu (mau buat ngerayain tahun baru)". Iya, itu digunakan untuk menarik perhatian. Tapi bukankah semua yang ada disekitar kita ini adalah sebuah pelajaran pada waktu yang bersamaan? Untuk yang lingkungannya bisa mengajarkan kalau itu bukan penggunaan bahasa yang benar, beruntunglah.
Tidak kalah kasihan adalah anak-anak yang orang tuanya asli Indonesia, sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia, tinggal di Indonesia, tapi disekolahkan sejak dini di sekolah berbahasa Inggris dengan harapan anaknya pintar berbahasa Inggris ketika besar nanti. Tentu tidak ada salahnya menggantungkan harapan mulia seperti itu terhadap anak, tapi siapa sebenarnya yang ingin 'diuntungkan' disini? Orang tua yang ingin dilihat 'wah, anaknya pinter ya kecil-kecil sudah bisa bahasa Inggris'? Atau memang untuk si anak? Apakah itu juga mengartikan kalau orang tuanya meng-under estimate buah hatinya kalau sudah besar nanti akan lebih sulit atau tidak akan bisa belajar bahasa asing? Bahasa ibu sendiri tidak bisa padahal. Dan bagaimana anak itu akan berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya yang hanya bisa berbahasa Indonesia?
Kita sudah terbawa jauh dalam angan-angan siapa, saya juga tidak tahu, dalam misi menjauhkan kita dari kultur kita, orang Indonesia. Budaya kita mulai beralih. Itu dia: mulai. Berarti kita berada dalam masa transisi, atau daerah abu-abu. Ini tidak, itu tidak. Indonesia tidak, budaya baru pun tidak. Kita di antaranya. Akhirnya, komunikasi menjadi kurang efektif. Contohnya, banyak saya lihat poster-poster kesehatan menggunakan bahasa Inggris, padahal orang-orang menengah ke bawah adalah sasaran utamanya karena mereka lebih sedikit terekspos dengan ilmu kesehatan dan penyakit lebih banyak beredar di kalangan ini. Tapi bagaimana orang-orang ini akan mengerti? Bagaimana pesan akan tersampaikan jika bahasanya saja tidak dimengerti? Gambar tidak selalu cukup dan interpretasi orang tergadap gambar banyak yang berbeda-beda. Ditambah, kadang pengejaan dan tenses-nya saja salah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menggunakan bahasa Inggris. Tapi saya rasa yang ingin dicapai disini (i.e. penyampaian pesan, edukasi) tidak tercapai. Dan kalaupun tetap ingin menggunakan bahasa Inggris, gunakanlah dengan baik dan benar karena orang-orang yang belum mahir bahasanya pun jadi mendapatkan pelajaran yang benar. Saya bukan seorang perfeksionis, tapi selama saya kuliah kedokteran di Jakarta saya juga mengalami kesulitan dalam penulisan dan pengucapan banyak kata-kata kedokteran karena tercampurnya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang setengah-setengah. Malu kalau ketika jadi dokter nanti yang punya ilmu malah tidak tau yang benar seperti apa.
Lalu, mengapa sekarang kita jadi jarang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan kedua yang menghubungkan kita? Mengapa kita membantu membunuh sendiri budaya yang sudah kita tanamkan berpuluh-puluh tahun? Bagaimana kita bisa membangun negara kalau rasa bangga dan memiliki tidak diciptakan? Carilah ilmu sampai ke negeri Cina kan bukan berarti jadilah orang Cina?
No comments:
Post a Comment